Pandang Sebelah
     Hiduplah seorang santri yang baru lulus dari pondoknya.Setiap hari dia selalu  mengamalkan apa yang telah diajarkan saat berada di pondok.Saat adzan  berkumandang,santri itu segera bergegas ke masjid dengan pakaian yang rapi.Setibanya di masjid dia melihat preman yang badannya dipenuhi dengan tato memasuki masjid tersebut.Kemudian ia berpikir,

“ngapain preman datang ke masjid,pasti mau melakukan sesuatu.”

Dengan berat hati santri itu pun berpindah ke masjid yang lain.

     Besoknya,santri itu pergi berbelanja ke pasar untuk membeli bahan masak. Dia kembali melihat lagi preman yang ia temui kemarin.Prasangka buruk langsung memenuhi pikirannya dalam sekejap.Dalam benaknya ia berkata,

“wah..,perasaanku nggak enak nih.”

Tiba-tiba preman itu mengamuk pada salah satu pedagang yang ada disana.Dengan rasa marah dan takut bercampur aduk,santri itu pulang kembali ke rumahnya.

     Di rumah dia berpikir,apa yang harus dilakukan agar preman itu berhenti mengganggu kenyamanan di kampung.Setelah sekian lama dipikirkannya,ia memutuskan untuk bertemu preman itu pada sore hari.

     Jam menunjukkan pukul 04.00 sore hari,santri itu lansung pergi menghadap preman tersebut.Setelah bertemu,tanpa basa-basi santri itu mengeluarkan semua keluhannya pada preman itu.Tetapi anehnya preman tersebut tidak membalas sedikitpun kata-kata yang dilontarkan padanya, dia justru diam dan mendengarkan. Dengan rasa marah, santri itu meninggalkan preman tersebut.

     Tidak jauh setelah meninggalkan preman itu, datang seorang kakek yang menghampiri santri itu. Kakek tersebut bertanya,

“Kenapa kamu marah kepada pemuda itu?.”

Kemudian santri itu bercerita panjang lebar. Setelah selesai bercerita, kakek itu berkata,

“Sepertinya ada salah paham disini, pemuda itu memarahi pedagang yang melakukan kecurangan kepada pembeli, bukan tanpa maksud. Sebaiknya kamu meminta maaf sekarang juga.”

     Santri itupun terdiam dan merasa bersalah karena telah berburuk sangka. Diapun langsung berlari ke preman yang ia temui tadi untuk meminta maaf.

     Dari cerita tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa kita tidak boleh menilai orang dari penampilannya saja, tetapi nilailah perilaku yang sebenarnya, nilailah maksud yang sebenarnya dan nilailah fakta yang sebenarnya.

Karya:M.Wildan Arya A
          19/IX-G

Komentar